Senin, 07 Januari 2013

Opini

Kemacetan Jakarta

Pertumbuhan kendaraan pribadi di Ibu Kota kian tak terkendali. Jika tak segera ada pembenahan pola transportasi, pada tahun 2014 Jakarta diprediksi akan mengalami kemacetan total.

Prediksi itu adalah ancaman serius. Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan, pertambahan jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 1.117 per hari atau sekitar 9 persen per tahun. Sementara pertumbuhan luas jalan relatif tetap, sekitar 0,01 persen per tahun.

Maka diperkirakan pada 2014, jalan tak lagi mampu menampung pergerakan kendaraan. Luas jalan sama dengan luas kendaraan pribadi yang dijajar di jalanan. "Jadi begitu Anda mengeluarkan kendaraan keluar rumah sudah langsung macet tak bergerak, kemacetan akan terjadi di depan garasi," kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, Bambang Susantono, dalam perbincangan dengan VIVAnews, beberapa waktu lalu.

Buruknya sistem transportasi massal adalah penyebab utama liarnya pertumbuhan kendaraan pribadi. Tak adanya moda transportasi yang nyaman dan aman membuat warga enggan beralih ke angkutan umum. Bahkan keberadaan Bus Transjakarta baru berhasil mengalihkan sekitar 22,5 persen pengguna kendaraan pribadi.

Data Institute for Transportation and Development Policy menunjukkan, pengguna mobil yang beralih ke bus berjalur khusus itu atau busway hanya 7,1 persen, dan pengguna sepeda motor 15,4 persen. Sedangkan sisanya merupakan peralihan penumpang angkutan umum reguler seperti metromini, dan mikrolet.

Masih banyak pengguna kendaraan pribadi yang enggan beralih ke Bus Transjakarta lantaran fasilitas yang tersedia belum optimal. Belum ada gedung parkir di dekat shelter Bus Transjakarta, jalur pedestrian juga belum tertangani dengan baik.

"Saya sih mau beralih ke Bus Transjakarta, tapi menuju haltenya tidak ada angkutan yang nyaman (shuttle). Kalau mau bawa mobil sampai halte, gedung parkir juga tak ada di shelter-shelter," ujar Satria, pengguna mobil pribadi asal Duren Sawit, Jakarta Timur. "Mau nggak mau myway (kendaraan pribadi) masih yang terbaik."

Konsultan transportasi dari Institute for Transportation and Development Policy, Damantoro, mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus segera melakukan pembatasan penggunaan kendaraan untuk mengurai kemacetan Ibu Kota.

Ada sejumlah opsi yang bisa diterapkan untuk melakukan pembatasan penggunaan kendaraan. Di antaranya  electronic road pricing (ERP), pengaturan nomor polisi ganjil-genap, three in one, dan penetapan tarif parkir dengan harga tinggi.

Namun, sesuai pola transportasi makro Jakarta, kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan harus diimbangi perbaikan sarana transportasi yang nyaman dan memadai. "Semua sistem harus terintegrasi," ujarnya.
Sementara itu, empat tahun menjelang 2014, pembenahan moda transportasi massal masih banyak yang berupa wacana. Operasional Bus Transjakarta tersendat, proyek monorel gagal, proyek Mass Rapid Transit (MRT) pun masih terganjal masalah tender.


News

Kasus Afriani Susanti

Afriani Susanti, nama perempuan satu ini sontak menjadi buah bibir di berbagai media. Bukan lantaran prestasi yang didapat tapi sebagai sang pembawa maut. Dengan mobil Xenia-nya, dia menabrak sembilan orang dari arah belakang pada minggu siang (22/01) sekitar pukul 11.00 WIB. di daerah Tugu Tani, Jakarta. Tak tanggung-tanggung, delapan nyawa langsung meninggal di lokasi kejadian. Sementara, seorang meninggal di Rumah Sakit. Sungguh ironis.
Ketika keluar dari mobil Xenia yang sudah ringsek, dia mengaku shock. Anehnya, kamera sebuah stasiun televisi tak sengaja mengambil gambar dirinya sedang asyik dengan ponselnya (BBM-an) di belakang seorang Polisi beberapa saat setelah keluar dari mobil yang ringsek. Yang lebih aneh lagi, kepada wartawan dan Polisi, dia mengatakan rem-nya blong. Tapi setelah dicoba oleh wartawan dan Polisi, rem mobil ternyata tidak blong. Ini artinya dia sudah berbohong.
Polisi pun bertindak cepat. Setelah melakukan pemeriksaan darah dan kadar akohol, Afriani Susanti ditetapkan sebagai tersangka. Perbuatan yang disangkakan bukan hanya sebagai penyebab kecelakaan. Tapi juga pemakai narkoba dengan tiga orang temannya. Sungguh mengkagetkan ternyata penyebab kecelakaannya karena keempat pengendara mobil Xenia mengkonsumsi narkoba beberapa jam sebelumnya.
Sebenarnya, tahun lalu pun juga terjadi kecelakaan yang sama akibat pengemudinya ngebut dan mengkonsumsi narkoba. Tempatnya pun sekitar di air mancur bundaran HI. Tercatat ada sekitar empat kali kejadian mobil menabrak trotoar dan tercebur di air mancur bundaran HI. Untunglah tidak menimbulkan korban jiwa.
Lain dengan yang terjadi pada hari minggu siang (22/01) lalu. Mobil Xenia yang dikendarai Afriani Susanti menabrak sembilan orang hingga meninggal. Perbuatan yang dilakukan Afriani Susianti sekilas mirip perbuatan pembunuh berdarah dingin. Tak ada maksud memojokkan apalagi menghina. Tapi “membunuh” dengan sengaja atau tidak sengaja delapan orang yang tidak ada sangkut paut dan kesalahannya jelas mirip pembunuh berdarah dingin. Bahkan Babe dan Ryan pun kalah dengan Afriani Susanti. Babe, robot gedhek baru di Jakarta dan Ryan, jagal dari Jombang tidak membunuh korban sekaligus. Keduanya melakukan pembunuhan secara bertahap. Berbeda dengan Afriani Susanti yang dengan sekali tabrak, sembilan nyawa langsung melayang.
Jack The Riper pun juga masih kalah dibandingkan Afriani Susanti. Bukan dalam hal soal korban tapi lebih kepada penyebabnya. Kalau Jack The Riper sudah jelas membunuh banyak pelacur di Inggris karena kelainan seksualnya. Bandingkan dengan Afriani Susanti, yang tanpa sebab langsung menabrak sembilan orang hingga meninggal. Sungguh mengenaskan.
Belajar dari kasus Afriani Susanti, selalu berhati-hati ketika berada di jalan. Jangan mengemudi ketika sedang mabuk atau memakai narkoba. Seandainya pun anda mabuk atau dalam pengaruh narkoba, lebih baik minta tolong orang mencarikan taksi untuk mengantarkan pulang ke rumah. Begitu juga kalau anda melihat orang mabuk atau memakai narkoba hendak mengemudikan kendaraannya (mobil dan sepeda motor), cepat cegahlah. Tawarkan bantuan untuk mengemudikan kendaraannya. Tapi kalau anda tidak mempunyai cukup kuat nyali untuk sekedar mengingatkan, mintalah bantuan satpam atau teleponlah polisi. Bukankah mencegah lebih baik daripada menyesali kejadian yang terlanjur terjadi.

Nama : Seruni Pertiwi
Kelas : 3 SA 02

Feature



Kota Serang

Panas terik yang menyelimuti kota ini, sebagian orang sangat mengeluh tentang gersangnya Kota Serang, Kependudukan di Kota Serang sendiri sudah mencapai sekitar puluhan ribu, bahkan ratusan ribu jiwa, di siang hari setelah saya pulang kuliah, saya dan teman – teman saya asik duduk di alun-alun Kota Serang dan ditemani pisang goreng yang saya beli dengan teman – teman saya di daerah tersebut, saya pun melihat ada beberapa anak sekolah yang sedang asik duduk di rimbunnya pepohonan setelah jam pulang sekolah dan saya juga melihat di seliling alun – alun Kota Serang ini banyak sekali pedagang kaki lima yang menjual dagangannya di pinggir jalan. 
Serang merupakan ibu kota kabupaten Serang dan menjadi ibu kota provinsi Banten yang terdiri dari 4 kecamatan yaitu, Kecamatan Serang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kecamatan taktakan dan Kecamatan Kasemen.
Kota Serang sendiri terkenal akan makanannya, khususnya makanan yang sering kita jumpai adalah Sate Bandeng, tapi sate bandeng yang satu ini berbeda dengan yang lain biasanya banyak orang tidak menyukai ikan bandeng karena memiliki banyak tulang jadi orang-orang sulit untuk memakannnya. tapi sate bandeng yang satu ini tidak memiliki tulang dan tidak usah takut untuk memakannya.
Masyarakat Serang tidak bisa dilepaskan dari ekspresi kesenian bernafaskan agama Islam, yang sangat mendominasi seni budaya Serang pada umumnya. Debus merupakan salah satu atraksi kesenian kebanggaan yang tumbuh subur di wilayah Serang. Permainan Debus bernuansa magis, dan kadang membuat miris dan ngeri bagi yang melihatnya. Tapi permainan ini sekaligus sebagai bukti betapa manusia mampu bertahan dari ancaman apa pun asalkan beriman dan bertakwa. Kesenian lain masih banyak lagi, antara lain Terbang Gede, yang memuji kebesaran Illahi. Masih ada Gacle, yang juga bernuansa magis. Ada pula Ubrug, Wayang Kulit, Angklung Buhun, Kuda Kepang, dan Patingtung. Semua masih hidup dan mendapat tempat di hati masyarakat Serang.

Nama : Seruni Pertiwi
Kelas : 3 SA 02

Senin, 15 Oktober 2012

sejarah jurnalistik

Awal mula lahirnya Jurnalistik dimulai sekitar 3000 tahun lalu. Terdapat konsep dasar jurnalistik yaitu, penyampaian berbagai pesan, berita dan informasi. konsep dasar tersebut berakar dari saat ketika itu Firaun, Amenhotep III, di Mesir mengirimkan ratusan pesan kepada para perwiranya yang tersebar di berbagai daerah provinsi untuk mengabarkan apa yang terjadi di pusat.
 

Minggu, 18 Maret 2012

100 impian


100 Impian
1.ingin lulus kuliah dengan nilai yang membanggakan
2. Ingin bias pasif bahasa inggris dengan baik
3. ingin sukses
4. ingin pergi haji bersama keluarga
5. ingin menikah dengan seseorang yang saya cintai
6. hidup bahagia dengan suami
7. ingin mempunyai rumah sendiri
8. ingin mempunyai mobil sendiri
9. ingin membuka usaha
10. ingin membuka sekolah untuk orang yang kurang mampu
11. ingin menjadi model
12. ingin bias bermain music piano dan gitar akustik
13. igin memberi makanan ke anak-anak jalanan
14. ingin mempunyai usaha ternak kelinci
15. ingin menjadi designer
16. ingin membuka factory outlet
17. ingin mempunyai blackberry Dakota white
18. ingin membeli ipad
19. ingin bias mengendarai mobil sendiri
20. ingin menjadi photographer
21. ingin membuka restaurant untuk mamah
22. ingin membuka usaha showroom mobil untuk ayah
23. ingin membiayai pendidikan adik sampai tingkat tinggi
24. ingin liburan bersama keluarga ke luar negeri
25. ingin menghabiskan waktu bersama orang yang disayang
26. ingin nostalgia dengan teman-teman sekolah
27. ingin memiliki usaha kebun buah-buahan untuk wisata
28. ingin membuat masjid untuk ibadah orang sekitar
29. ingin mengasah dalam bidang tarik suara
30. ingin mempunyai band jazz yang personilnya wanita semua
31. ingin memodivikasi motor
32. ingin refresing ke dufan lagi bersama temen-teman kuliah
33. Ingin menjadi orang yang sukses dalam segala bidang.
34. Ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tua.
35.  Ingin menjadi istri yang baik.
36.  Ingin cepat selesai kuliah.
37. Ingin pekerjaan yang lebih tetap.
38. Ingin punya rumah sendiri.
39. Ingin masuk syurga
40. Ingin menjadi orang berilmu.
41. Ingin dapat menolong sesama.
42. Ingin selalu berbuat baik.
43. Ingin melanjutkan S2.
44. Ingin menjadi orang yang baik.
45. Ingin menjadi orang yang tidak sombong.
46.  Ingin membuat orang tua bangga.
47. Ingin menjadi orang yang serba berkecukupan.
48. Ingin selalu sehat..
49. Ingin ikut tes CPNS setelah selesai kuliah.
50. Ingin jalan-jalan.
51. Ingin membiayai orangtua naik haji.
52. Ingin dapat membuat program sendiri.
53. Ingin jadi wanita karir.
54. Ingin tidak selalu merepotkan orang lain.
55.  Ingin jadi sutradara film.
56. Ingin keliling kota.
57. Ingin menjadi lebih baik lagi.
58.  Ingin hidup dengan sebaik-baiknya.
59. Ingin lebih teliti lagi.
60. ingin selalu ada saat keluarga membutuhkan.
61. Ingin membuat film yang menggunakan animasi sendiri.
62. Ingin menjadi penulis.
63. Ingin membiayai sekolah adik.
64. Ingin menjadi orang yang tidak pemarah.
65. Ingin menjadi orang yang berguna bagi siapa saja.
66. Ingin tetap langsing.
67. ingin selalu berlapang dada terhadap apa yang terjadi.
68. Ingin belajar ilmu ikhlas.
69. Ingin usaha yang dijalankan sukses.
70. Ingin dapat membantu orang lain.
71. Ingin selalu disayang keluarga.
72. Ingin selalu bersama suami.
73. Ingin hidup lebih mapan.
74.  Ingin nilai yang memuaskan.
75.  ngin selalu mengerjakan tugas tepat pada waktunya.
76. Ingin membuat penemuan-penemuan baru.
77. Ingin melakukan perubahan dalam hidup lebih baik lagi.
78. Ingin rajin dalam segala hal.
79. Ingin jadi programmer handal.
80. Ingin jadi repoter tv.
81. Ingin punya kebun.
82. Ingin mengelola kebun sendiri.
83. Ingin melihat teman-teman sukses.
84. Ingin ibadah lebih baik lagi.
85. Ingin selalu mengingat Allah SWT.
86. Ingin bekerja lebih baik lagi.
87. Ingin punya yayasan.
88. Ingin usaha yang dijalankan sukses.
89. Ingin dapat membantu orang lain.
90. Ingin keliling Indonesia.
91. Ingin menjadi pemimpin yang amanah.
92. Ingin punya pabrik industri batik.
93. Ingin punya tanaman beraneka macam buah-buahan disekitar rumah.
94. Ingin punya anak yang berbakti kepada orang tua.
95. Ingin selalu konsisten terhadap apa yang diucapkan.
96. Ingin menjadi seorang muslim yang solehah.
97. Ingin menjadi pakar telematika.
98. Ingin punya pabrik coklat.
99. Ingin mampu melewati ujian hidup dengan sabar dan ikhlas.
100. Ingin semua keinginan diatas tercapai. Amien.

Minggu, 08 Januari 2012

Kerukunan Umat Beragama

Kerukunan Antar Umat Beragama Di Indonesia
Pengertian :
Kerukunan umat beragama adalah suatu bentuk sosialisasi yang damai dan tercipta berkat adanya toleransi agama. Toleransi agama adalah suatu sikap saling pengertian dan menghargai tanpa adanya rasa diskriminasi dalam hal apapun,khususnya dalam hal agama. Lalu adakah pentingnya Kerukunan Umat Beragama di Indonesia ? jawabannya adalah “iya”
Kerukunan Umat Beragama adalah hal yang sangat penting untuk mencapai sebuah kesejahteraan  hidup di negeri ini, seperti yang kita ketahui Indonesia memiliki keragamaan yang begitu banyak. Tak hanya masalah adat istiadat atau budaya seni,tapi juga termasuk agama.
Walau mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama islam, ada beberapa agama lain yang juga dianut penduduk ini. Kristen,khatolik,budha dan hindu adalah contoh agama yang juga banyak dipeluk oleh warga Indonesia.
Setiap agama tentu punya aturan masing-masing dalam beribadah. Namun perbedaan ini bukanlah alas an untuk berpecah belah. Sebagai satu saudara dalam tanah air yang sama, kita harus menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia agar Negara ini tetap menjadi satu kesatuan yang utuh.

Macam-macam Kerukunan Umat Beragama di Indonesia :
1.      Kerukunan antar pemeluk agama yang sama, yaitu suatu bentuk kerukunan yang terjalin antar masyarakat penganut satu agama.
Misalnya : kerukunan sesama umat islam atau kerukunan sesama penganut umat Kristen.

2.      Kerukunan antar umat beragama lain, yaitu suatu bentuk kerukunan yang terjalin antar masyarakat yang memeluk agama yang berbeda-beda.
Misalnya : kerukunan antar umat islam dan Kristen, antara pemeluk agama Kristen dan budha atau kerukunan yang dilakukan oleh semua agama.

Bagaimana menjaga Kerukunan Umat Beragama di Indonesia ?
1.      Menjunjung tinggi rasa toleransi antar umat beragama, baik sesame antar pemeluk agama yang sama maupun yang berbeda.
Rasa toleransi dapat terbentuk dalam macam-macam hal
Misalnya : perijinan pembangunan tempat ibadah oleh pemerintah, tidak saling mengejek dan mengganggu umat lain atau member waktu pada umat lain untuk beribadah bila memeang sudah waktunya. Banyak hal yang bias dilakukan untuk menunjukkan sikap toleransi. Hal ini sangat penting demi menjaga tali kerukunan umat beragama umat  di Indonesia

2.      Selalu siap membantu sesame, jangan melakukan diskriminasi terhadap suatu agama terutama saat mereka membutuhkan bantuan.
Misalnya : di suati daerah di Indonesia mengalami bencana alam. Mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Kristen. Bagi anda pemeluk agama lain jangan lantas malas untuk membantu saudara sebangsa yang sedang kesusahan hanya karena perbadaan agama.

3.      Selalu jagalah rasa hormat pada orang lain tanpa memandang agama apa yang mereka anut.
Misalnya : dengan selalu berbicara halus dam ramah. Hal ini tentu akan mempererat kerukunan umat beragama di Indonesia.

4.      Bila terjadi masalah yang menyangkut agama, tetap selesaikan dengan kepala dingin tanpa harus saling menyalahkan. Para pemuka agama,tokoh masyaraka dan pemerintah sangat diperlukan peranannya dalam pencapaian solusi yang baik dan tidak merugikan pihak manapun atau munkin malah menguntungkan pihak lain.

Masalah Kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia
Beberapa masalah kerukunan umat beragam di Indonesia, terdapa empat masalah tentang kerukunan hidup umat beragama yang berkaitan dengan integrasi nasional, yaitu :
1.      Masalah mempersatukan aneka warna suku bangsa
2.      Masalah kerukunan antar umat beragama
3.      Masalah hubungan minoritas dan mayoritas
4.      Masalah integrasi kebudayaan-kebudayaan di irian jaya dan timor timur dengan kebudayaan di Indonesia.

Adapun focus dari kajian ini adalah berkaitan dengan masalah kerukunan, sehingga dapat dilepaskan dari masalah ketidakrukunan atau konflik. Konsep kerukunan umat beragama mengacu pada kerukunan yang terwujud diantara umat beragama dan bukan kerukunan agama.
Kajian mengenai kerukunan umat beragama terwujud dalam interaksi antar umat beragama. Ineraksi adalah hubungan timbale balik antara dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai identitas. Jika dalam interaksi yang terwujud agar umat agama yang berlainan saling menonjolkan identitas agama masing-masing, maka yang terjadi adalah ketidakrukunan, dan sebaliknya jika dalam interaksi dalam umat beragama tersebut masing-masing pihak tidak mengaktifkan atau tidak menyimpan identitasnya maka terjadilah kerukunan antar umat beragama.

Faktor-faktor  yang menyebabkan timbulnya masalah kerukunan antara lain :
1.      Sikap prasangka stereotype etnik dan dijiwai oleh suasana persaingan yang tajam
2.      Penyiaran agama yang ditujukan kepada kelompok yang sudah menganut agama
3.      Penyendirian rumah beribadah, pendirian rumah ibadah kelompok minoritas ditengah kelompok mayoritas juga dapat mengganggu hubungan antar umat beragama, keyakinan yang bersifat mutlak ini menimbulkan penolakan yang bersifat mutlak pula terhadap kebenaran agama lain yang diyakini oleh pemiliknya sebagai kebenaran mutlak.


POLA PEMBINAAN KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA

1. Perlunya Kerukunan Hidup Beragama

1. Manusia Indonesia satu bangsa, hidup dalam satu negara, satu ideologi Pancasila. Ini sebagai titik tolak pembangunan.

2. Berbeda suku, adat dan agama saling memperkokoh persatuan.

3. Kerukunan menjamin stabilitas sosial sebagai syarat mutlak pembangunan.

4. Kerukunan dapat dikerahkan dan dimanfaatkan untuk kelancaran pembangunan.

5. Ketidak rukunan menimbulkan bentrok dan perang agama, mengancam kelangsungan hidup bangsa dan negara.

6. Pelita III: kehidupan keagamaan dan kepercayaan makin dikembangkan sehingga terbina hidup rukun di antara sesama umat beragama untuk memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa dalam membangun masyarakat.

7. Kebebasan beragama merupakan beban dan tanggungjawab untuk memelihara ketentraman masyarakat.


B. Kendala-Kendala
B. 1. Rendahnya Sikap Toleransi
Menurut Dr. Ali Masrur, M.Ag, salah satu masalah dalam komunikasi antar agama sekarang ini, khususnya di Indonesia, adalah munculnya sikap toleransi malas-malasan (lazy tolerance) sebagaimana diungkapkan P. Knitter. Sikap ini muncul sebagai akibat dari pola perjumpaan tak langsung (indirect encounter) antar agama, khususnya menyangkut persoalan teologi yang sensitif. Sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-masalah keimanan. Tentu saja, dialog yang lebih mendalam tidak terjadi, karena baik pihak yang berbeda keyakinan/agama sama-sama menjaga jarak satu sama lain. Masing-masing agama mengakui kebenaran agama lain, tetapi kemudian membiarkan satu sama lain bertindak dengan cara yang memuaskan masing-masing pihak. Yang terjadi hanyalah perjumpaan tak langsung, bukan perjumpaan sesungguhnya. Sehingga dapat menimbulkan sikap kecurigaan diantara beberapa pihak yang berbeda agama, maka akan timbullah yang dinamakan konflik.
B. 2. Kepentingan Politik
Faktor Politik, Faktor ini terkadang menjadi faktor penting sebagai kendala dalam mncapai tujuan sebuah kerukunan anta umat beragama khususnya di Indonesia, jika bukan yang paling penting di antara faktor-faktor lainnya. Bisa saja sebuah kerukunan antar agama telah dibangun dengan bersusah payah selama bertahun-tahun atau mungkin berpuluh-puluh tahun, dan dengan demikian kita pun hampir memetik buahnya. Namun tiba-tiba saja muncul kekacauan politik yang ikut memengaruhi hubungan antaragama dan bahkan memorak-porandakannya seolah petir menyambar yang dengan mudahnya merontokkan “bangunan dialog” yang sedang kita selesaikan. Seperti yang sedang terjadi di negeri kita saat ini, kita tidak hanya menangis melihat political upheavels di negeri ini, tetapi lebih dari itu yang mengalir bukan lagi air mata, tetapi darah; darah saudara-saudara kita, yang mudah-mudahan diterima di sisi-Nya. Tanpa politik kita tidak bisa hidup secara tertib teratur dan bahkan tidak mampu membangun sebuah negara, tetapi dengan alasan politik juga kita seringkali menunggangi agama dan memanfaatkannya.


B. 3. SikapFanatisme
Di kalangan Islam, pemahaman agama secara eksklusif juga ada dan berkembang. Bahkan akhir-akhir ini, di Indonesia telah tumbuh dan berkembang pemahaman keagamaan yang dapat dikategorikan sebagai Islam radikal dan fundamentalis, yakni pemahaman keagamaan yang menekankan praktik keagamaan tanpa melihat bagaimana sebuah ajaran agama seharusnya diadaptasikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Mereka masih berpandangan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan dapat menjamin keselamatan menusia. Jika orang ingin selamat, ia harus memeluk Islam. Segala perbuatan orang-orang non-Muslim, menurut perspektif aliran ini, tidak dapat diterima di sisi Allah.
Pandangan-pandangan semacam ini tidak mudah dikikis karena masing-masing sekte atau aliran dalam agama tertentu, Islam misalnya, juga memiliki agen-agen dan para pemimpinnya sendiri-sendiri. Islam tidak bergerak dari satu komando dan satu pemimpin. Ada banyak aliran dan ada banyak pemimpin agama dalam Islam yang antara satu sama lain memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang agamanya dan terkadang bertentangan. Tentu saja, dalam agama Kristen juga ada kelompok eksklusif seperti ini. Kelompok Evangelis, misalnya, berpendapat bahwa tujuan utama gereja adalah mengajak mereka yang percaya untuk meningkatkan keimanan dan mereka yang berada “di luar” untuk masuk dan bergabung. Bagi kelompok ini, hanya mereka yang bergabung dengan gereja yang akan dianugerahi salvation atau keselamatan abadi. Dengan saling mengandalkan pandangan-pandangan setiap sekte dalam agama teersebut, maka timbullah sikap fanatisme yang berlebihan.
Dari uraian diatas, sangat jelas sekali bahwa ketiga faktor tersebut adalah akar dari permasalahan yang menyebabkan konflik sekejap maupun berkepanjangan.








Minggu, 06 November 2011

Kesetiakawanan Sosial


Kesetiakawanan Sosial
Kesetiakawanan Sosial atau rasa solidaritas sosial adalah merupakan potensi spritual, komitmen bersama sekaligus jati diri bangsa oleh karena itu Kesetiakawanan Sosial merupakan Nurani bangsa Indonesia yang tereplikasi dari sikap dan perilaku yang dilandasi oleh pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung jawab dan partisipasi sosial sesuai dengan kemampuan dari masing-masing warga masyarakat dengan semangat kebersamaan, kerelaan untuk berkorban demi sesama, kegotongroyongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan.
Oleh karena itu Kesetiakawanan Sosial merupakan Nilai Dasar Kesejahteraan Sosial, modal sosial (Social Capital) yang ada dalam masyarakat terus digali, dikembangkan dan didayagunakan dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk bernegara yaitu Masyarakat Sejahtera.

Sebagai nilai dasar kesejahteraan sosial, kesetiakawanan sosial harus terus direvitalisasi sesuai dengan kondisi aktual bangsa dan diimplementasikan dalam wujud nyata dalam kehidupan kita.
Kesetiakawanan sosial merupakan nilai yang bermakna bagi setiap bangsa. Jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial dalam kehidupan bangsa dan masyarakat Indonesia pada hakekatnya telah ada sejak jaman nenek moyang kita jauh sebelum negara ini berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka yang kemudian dikenal sebagai bangsa Indonesia.
Jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial tersebut dalam perjalanan kehidupan bangsa kita telah teruji dalam berbagai peristiwa sejarah, dengan puncak manifestasinya terwujud dalam tindak dan sikap berdasarkan rasa kebersamaan dari seluruh bangsa Indonesia pada saat menghadapi ancaman dari penjajah yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa.
Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan berkat semangat kesetiakawanan sosial yang tinggi. Oleh karena itu, semangat kesetiakawanan sosial harus senantiasa ditanamkan, ditingkatkan dan dikukuhkan melalui berbagai kegiatan termasuk peringatan HKSN setiap tahunnya.
HKSN yang kita peringati merupakan ungkapan rasa syukur dan hormat atas keberhasilan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai ancaman bangsa lain yang ingin menjajah kembali bangsa kita. Peringatan HKSN yang kita laksanakan setiap tanggal 20 Desember juga merupakan upaya untuk mengenang kembali, menghayati dan meneladani semangat nilai persatuan dan kesatuan, nilai kegotong-royongan, nilai kebersamaan, dan nilai kekeluargaan seluruh rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.
Saat ini kita tidak lagi melakukan perjuangan secara fisik untuk mengusir penjajah, namun yang kita hadapi sekarang adalah peperangan menghadapi berbagai permasalahan sosial yang menimpa bangsa Indonesia seperti kemiskinan, keterlantaran, kesenjangan sosial, konflik SARA di beberapa daerah, bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, tsunami, kekeringan, dll), serta ketidakadilan dan masalah-masalah lainnya.
Sesuai tuntutan saat ini, dengan memperhatikan potensi dan kemampuan bangsa kita, maka peringatan HKSN ini yang merupakan pengejewantahan dari realisasi konkrit semangat kesetiakawanan sosial masyarakat. Dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai dukungan dan peran aktif dari seluruh komponen/elemen bangsa, bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja melainkan tanggung jawab bersama secara kolektif seluruh masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, makna nilai kesetiakawanan sosial sebagai sikap dan perilaku masyarakat dikaitkan dengan peringatan HKSN ditujukan pada upaya membantu dan memecahkan berbagai permasalahan sosial bangsa dengan cara mendayagunakan peran aktif masyarakat secara luas, terorganisir dan berkelanjutan. Dengan demikian kesetiakawanan sosial masih akan tumbuh dan melekat dalam diri bangsa Indonesia yang dilandasi oleh nilai-nilai kemerdekaan, nilai kepahlawanan dan nilai-nilai kesetiakawanan itu sendiri dalam wawasan kebangsaan mewujudkan kebersamaan : hidup sejahtera, mati masuk surga, bersama membangun bangsa.
KESETIAKAWANAN SOSIAL SEBAGAI GERAKAN NASIONAL
Peringatan HKSN menjadi momentum yang sangat strategis sebagai upaya untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kesetiakawanan sosial sebagai suatu gerakan nasional sesuai dengan kondisi dan tantangan jaman, kesetiakawanan sosial yang menembus baik lintas golongan dan paradaban maupun lintas SARA harus terus menggelora terimplementasi sepanjang masa, dengan demikian akan berwujud ”There is No Day Whithout Solidarity” (tiada hari tanpa kesetiakawanan sosial), kesetiakawanan sosial tidak berhenti pada harinya HKSN yang diperingati setiap tanggal 20 Desember di Tingkat Pusat, Provinsi dan Kab/Kota serta oleh seluruh lapisan masyarakat berkelanjutan selamanya dan sepanjang masa.
Kesetiakawanan sosial sebagai pengejewantahan dari sikap, perilaku dan jati diri bangsa Indonesia akan dapat menjadi modal yang besar dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi bangsa ini secara bertahap untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh tanah air, apabila nilai kemerdekaan, nilai kepahlawanan dan nilai kesetiakawanan itu melekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.








Kesetiakawanan Tetap Diperlukan
SETIAP orang yang menyadari, dalam menjalankan kehidupan dan penghidupannya tak akan lepas dari ketergantungannya dengan orang lain. Karena setiap orang tak mungkin dapat mencukupi kebutuhannya tanpa keterlibatan pihak lain, baik langsung maupun tidak langsung.
Hal yang sama juga berlaku bagi suatu komunitas atau organisasi dari tingkat kelompok kecil sampai organisasi yang besar, dari yang bergerak di bidang kemasyarakatan dan sosial, politik dan pemerintahan, maupun bisnis atau jasa.
Semuanya akan sulit mencapai tujuannya tanpa keterkaitan dengan orang lain, baik secara perseorangan maupun secara kelembagaan. Sosiolog almarhurn Prof.Dr.Selosumarjan pernah mengatakan, masyarakat dibentuk oleh adanya jaringan sosial yang sangat kompleks. Pendapat ini mempertegas kalau di dalam kehidupan dan penghidupan ini antara satu orang dengan orang lain, antara kesatuan orang dengan kesatuan yang lain saling berhubungan, memberi dan menerima, membantu dan dibantu dalam ragam kebutuhan dan kepentingan.
Dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kesetiakawanan sosial mengandung makna yang berdimensi luas, seluas cakupan permasalahan dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, yaitu kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam bingkai NKRI.
Kenyataannya, dalam mewujudkan cita-cita luhur tersebut masih dihadapkan kepada berbagai masalah yang krusial dan berat, baik karena sendi-sendi ekonomi yang lemah, kehidupan politik yang sedang mencari jati diri, penegakan hukum yang belum adil dan kuat, keteladanan para pemimpin yang belum sesuai status dan peranan yang disandangnya dan sikap masyarakat sendiri yang terkadang emosional.
Dari fenomena yang demikian, lalu kita dihadapkan kepada dampak sosial yang menyertainya, seperti : banyaknya pengangguran, merebaknya kriminalitas, maraknya demonstrasi di mana-mana oleh berbagai elemen masyarakat, terjadinya tawuran antarpelajar antardesa antarkelompok masyarakat, merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap pejabat publik, meluasnya kemiskinan dan berbagai kepincangan sosial lainnya.
Semuanya tak dapat dilepaskan dari nilai-nilai kesetiakawanan sosial secara umum, artinya tinggi rendahnya pengamalan nilai-nilai kesetiakawanan sosial akan tercermin dari tinggi rendah atau berat ringannya permasalahan yang dihadapi oleh suatu komunitas, masyarakat atau bangsa yang bersangkutan.
Kesetiakawanan sosial mengandung aspek-aspek solidaritas, tenggang rasa, empati dan bukan sebaliknya tak acuh, masa bodoh dengan orang lain, atau egois.




Kesejahteraan Sosial
Nilai kesetiakawanan sosial tercermin dari sikap mental yang dimiliki seseorang atau suatu komunitas, peka terhadap lingkungan sosialnya sehingga mendorong untuk peduli melakukan perbuatan bagi kepentingan lingkungan sosialnya tersebut. Esensi kesetiakawanan sosial adalah memberikan yang terbaik bagi orang lain.Tak terkecuali bagi organisasi, lembaga publik dan dunia usaha yang dalam gerak kegiatannya membutuhkan dukungan dari masyarakat manusia.
Penyandang masalah kesejahteraan sosial atau PMKS semakin lama meningkat jenis dan jumlahnya. Peningkatan tersebut seiring dengan dinamika kehidupan sosial saat sekarang, Kita ambil contoh anak jalanan dan korban tindak kekerasan adalah dua jenis PMKS yang kemunculannnya tergolong belum lama dibandingkan masalah yang lainnya, seperti kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, korban bencana dan ketunaan sosial lainnya. Tidak mengherankan jika jumlah jenis PMKS yang tercatat di Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah tidak kurang dari 27 jenis, dengan populasi yang cukup besar jumlahnya. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial, tersirat adanya tanggung jawab bersama bahwa penanganan PMKS selain tugas dan usaha pemerintah juga menjadi kewajiban dan tanggung jawab masyarakat.
Selama ini masyarakat memang sudah banyak yang ikut serta dalam menangani penyandang masalah kesejahteraan sosial, baik dengan cara perseorangan kelompok maupun melalui organisasi. Ada yang partisipasinya bersifat pencegahan, pelayanan dan bantuan, maupun bersifat pencegahan dan pengembangan. Tetapi kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat tersebut masih belum sebanding dengan populasi penyandang masalah yang jumlahnya cukup banyak dan kualitas masalahnya cukup berat, sehingga peran serta masyarakat harus terus ditingkatkan agar kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat semakin lama semakin dipersempit.
Dengan kata lain diharapkan semakin lama semakin banyak lagi masyarakat peduli terhadap orang yang “susah” sehingga mereka yang miskin, telantar, tuna sosial, korban bencana, penyandang cacat miskin dan PMKS lainnya semakin mengecil jumlah dan kualitasnya. Sebaliknya semakin banyak “kaum susah” berubah keadaan menjadi lebih baik keadaan hidup dan penghidupannya.
Melalui pendayagunaan dan penyaluran potensi sosial masyarakat dimaksud diharapkan beban pemerintah semakin lama akan semakin ringan; karena usaha kesejahteraan sosial pada dasarnya adalah fungsi masyarakat, meskipun tanggungjawab utama pada Negara.
Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional tanggal 20 Desember merupakan peringatan bagi seluruh elemen bangsa dan masyarakat Indonesia, bahwa kita semua dituntut untuk mengembangkan terus kepedulian sosialnya sesuai kemampuan dan kebiasaan masing-masing bagi terwujudnya mernpertinggi taraf hidup seluruh rakyat Indonesia.